Wednesday, June 19, 2013

semua yg bernyawa pasti mati


Sebenarnya ini adalah remake dari tulisan yang dengan tololnya aku hapus permanen. Dan tulisan ini dibuat dengan perasaan yang sudah tak sama lagi dengan perasaan saat aku menuliskannya untuk yang pertama kali. Tapi, aku berharap, tulisan ini dapat benar-benar mencerminkan tulisan serta perasaanku pada saat penulisan yang pertama.

Sebenarnya aku ingin menuliskan ini sejak beberapa minggu yang lalu. Namun, karena kesibukanku dalam mempersiapkan UAS, aku baru sempat menuliskannya sekarang (setelah sebelumnya terhapus, tentu saja)
Beberapa minggu yang lalu, timeline twitter ku penuh dengan ucapan belasungkawa teman-teman SMA-ku, karena ayah salah satu dari meraka baru saja kembali pada Allah. Aku benar-benar takut. Sangat takut jika hal itu menimpa orang tuaku. Beberapa saat sebelumya, timeline-ku sempat pernuh oleh ucapan-ucapan semoga lekas sembuh untuk orang tua dari beberapa temanku, baik teman kampus, maupun teman SMA. Bayangkan, beberapa temanku orang tuanya sakit, di waktu yang berdekatan. Aku benar-benar bersyukur orang tuaku masih diberi kesehatan oleh Allah. Aku sama sekali tak mensyukuri keadaaan orang tua teman-temanku, tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya bersyukur hal itu tak menimpa orang tua ku.
Saat ini, banyak teman-temanku yang telah kehilangan orangtua meraka. Maklum saja, saat ini aku adalah seorang mahasiswa, jadi bisa diperkirakan berapa usia orang tuaku dan orangtua teman-temanku, apalagi bagi mereka yang notabenenya anak bungsu, tentu saja orang tua mereka lebih tua daripada aku yang anak sulung.

Sejujurnya, aku sangat kagum pada mereka yang tak lagi memiki orang tua, tapi selalu bertingkah seolah-olah orang tua meraka masih hidup. Dan, sejujurnya, aku yakin aku tak akan bisa seperti itu. Aku mungkin tak akan bisa menjaga adik-adikku sebaik temanku menjada adik-adiknya sepeninggal orangtuanya. Dengan tanpa banyak bicara menjemput adik-adiknya dari sekolah setiap hari. Benar-benar figur seorang kakak yang bisa diandalkan dan bisa melindungni adik-adiknya. Aku juga mungkin tak akan bisa menceritakan orangtuaku di depan orang banyak, tanpa membuat mereka menyadari bahwa orang yang tengah diceritakan telah tiada. Mungkin merekapun butuh waktu untuk menjadi seperti itu, tapi, tak bisa kubayangkan berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menjadi sekuat itu.

Aku takut. Sangat-sangat takut.

Mungkin orang-orang menganggapku orang yang kuat, mandiri, dan tak pernah butuh pertolongan orang lain. Tapi, mereka tak pernah tahu alasan selama ini aku selalu melakukan segala hal sendiri adalah karena aku tahu, saat aku melakukan kesalahan akan selalu ada Mamah dan Papah yang membantuku untuk memperbaiki kesalahanku. Untuk apa aku mengharapkan bantuan dari oarang lain, saat aku bisa mendapatkan pertolongan dari ahli segala macam urusan? Untuk apa aku harus terlihat lemah di hadapan orang lain, jika aku bisa menagis kapan pun aku mau di depan orang tuaku? I don’t need anyone but my parent. Mungkin karena itulah, Allah masih mengizinkan orangtuaku untuk tetap berada di sampingku. Karena Allah tahu, aku tak sekuat yang orang-orang pikir.

Walaupun aku sudah berumur 20 tahun, tapi masih banyak hal yang aku gantungkan pada orang tuaku. Semuanya akan baik-baik saja saat ada Mamah. Semuanya bisa diatur selama ada Papah. Semua keputusan-keputusan vital dalam hidupku, aku serahkan sepenuhnya kepada mereka. Entah karena aku ini anak yang penurut atau hanya karena aku ini anak yang manja, yang bahkan menentukan keinginanku sendiri pun tak mampu. Entahlah.

Mungkin, sekarang aku harus sudah mulai belajar mandiri. Aku semakin dewasa, orang tuaku semakin tua. Dan kematian itu adalah hal yang nyata. Semua yang bernyawa pasti merasakan mati. Bukan hanya karena itu, tapi aku memang sudah tak pantas lagi untuk menangis setiap saat aku bermasalah. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi anak manja, well, aku bahkan sudah bukan anak-anak lagi. Tapi, jika aku boleh meminta, Ya Allah, jangan ambil Mamah dan Papah. Biar bagaimanapun value kehidupanku adalah value kehidupan mereka, aku belum siap kehilangan mereka sekarang. Aku masih belum layak untuk menjadi tumpuan adik-adik ku. Berikanlah kesehatan untuk mereka. Amiin.

No comments:

Post a Comment