Wednesday, June 19, 2013

Pengantar Bisnis?

Oke, sepertinya aku menyerah. Aku sudah tak bisa lagi melanjutkan misi ini. Tulisan ini adalah tulisan terakhirku yang menggunakan Bahasa Indonesia yang cukup baik dan benar. Mungkin, aku memang tidak ditakdirkan untuk menulis dengan gaya seorang bangsawan yang tutur katanya teratur dan lembut. Lagi pula, kalau pun aku menggunakan Bahasa Indonesia yang serampangan di blog-ku bukan berarti tata cara hidupku juga serampangan kan? Ya, walaupun –harus diakui- aku bukan tipe orang yang lemah lembut. Dan yang harus digarisbawahi adalah: lemah lembut tidak sama dengan baik, begitu pula dengan keras tidak sama dengan tidak baik. Karena,kata Adam Young, everything is never as it seems, begitu.

Mulai tanggal 4 Juni 2013 besok aku sudah mulai Ujian Akhir Semester. Lumayan menyeramkan, dan agak sulit memprediksi nilai yang akan aku dapat nanti. Aku berharap agar aku bisa menaikan IP-ku. Sebenarnya, di awal semester ini, aku berencana untuk memndapat IP sempurna sebagai kado ulang tahun untuk Mamah tercinta, tapi, kenyataannya, aku masih sama seperti aku di semester kemarin, malas, dan sering meremehkan hal kecil. Begitulah aku, Juwita Ramadhani yang hanya tertarik dengan pelajaran yang sulit. Sejak masih berseragam putih merah sampai sekarang. Aku masih ingat, dulu, saat aku masih SD, Mamah ditanya oleh wali kelasku saat pembagian rapor, “Bu, kenapa sih, Juwita sering salah di tempat yang mudah? Tapi, giliran soal yang sulit dia malah benar” hahaha, lucu memang aku ini. Anehnya, aku sama sekali tidak berubah sampai sekarang. Aku sadar-sesadar-sadarnya kalau hal tersebut sangat tidak baik. Meremehkan hal kecil. Tapi, entah kenapa, aku memang tak tertarik dengan hal-hal yang remeh temeh. Saat aku masih SMA, aku pernah remedial ulangan harian kimia. Dan, soal remedial yang diberikan oleh guruku itu sangat mudah, mungin bobotnya hanya seperlima soal ulangan harian. Untuk kebanyakan orang, mungkin hal itu menyenangkan, karena mereka jadi tak perlu mengeluarkan effort yang banyak untuk mengerjakan soal soal tersebut. Tapi, bagiku, hal tersebut seperti sebuah ejekan, aku merasa dianggap bodoh, dan aku merasa terhina oleh soal itu. Mulai saat itu, aku tak pernah lagi mau untuk remedial kimia, karena aku yakin soal-soal remedial itu adalah soal-soal “penghinaan “

Kembali ke UAS, sebenarnya aku agak takut dengan nilai Pengntar Bisnis-ku. Karena aku melewatkan 1 kuis. Berdasarkan silabus, kuis untuk mata kuliah Pengantar Bisnis ini dilakukan 2 kali. Yang pertama adalah sebelum UTS, dan yang kedua adalah sebelum UAS. Dan bobot untuk kuis adalah 15% dalam menentukan nilai akhir mahasiswa. Kuis pertama sebelum UTS aku ikut, artinya, aku kehilangan 7,5% karena meleawatkan kuis yang kedua. Aku takut. Temanku mengatakan hal itu tak akan berpengaruh banyak, tapi targetku adalah mendapat nilai A di semua mata kuliah, kalau aku sudah kehilangan 7,5% komponen yang menentukan nilai akhirku, artinya, aku harus bisa mendapat nilai UAS untuk mata kuliah ini minimal 95. Semoga aku bisa mencapai batas minimal itu, amin. Aku hanya ingin memberikan kado penuh perjuangan pada Mamah terhebat yang pernah ada. Aku tahu, aku bisa saja membeli sesuatu sebagai kado untuk Mamah, tapi, aku bukan tipe orang seperti itu, aku lebih menyukai segala hal yang penuh perngorbanan untuk mendapatkannya, bukan benda yang bisa dibeli dengan uang.

No comments:

Post a Comment