Sebenarnya ini adalah remake dari tulisan yang dengan
tololnya aku hapus permanen. Dan tulisan ini dibuat dengan perasaan yang sudah
tak sama lagi dengan perasaan saat aku menuliskannya untuk yang pertama kali.
Tapi, aku berharap, tulisan ini dapat benar-benar mencerminkan tulisan serta
perasaanku pada saat penulisan yang pertama.
Sebenarnya aku ingin menuliskan ini sejak beberapa minggu
yang lalu. Namun, karena kesibukanku dalam mempersiapkan UAS, aku baru sempat
menuliskannya sekarang (setelah sebelumnya terhapus, tentu saja)
Beberapa minggu yang lalu, timeline twitter ku penuh dengan ucapan belasungkawa teman-teman
SMA-ku, karena ayah salah satu dari meraka baru saja kembali pada Allah. Aku
benar-benar takut. Sangat takut jika hal itu menimpa orang tuaku. Beberapa saat
sebelumya, timeline-ku sempat pernuh
oleh ucapan-ucapan semoga lekas sembuh untuk orang tua dari beberapa temanku,
baik teman kampus, maupun teman SMA. Bayangkan, beberapa temanku orang tuanya
sakit, di waktu yang berdekatan. Aku benar-benar bersyukur orang tuaku masih
diberi kesehatan oleh Allah. Aku sama sekali tak mensyukuri keadaaan orang tua
teman-temanku, tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya bersyukur hal itu tak
menimpa orang tua ku.
Saat ini, banyak teman-temanku yang telah kehilangan
orangtua meraka. Maklum saja, saat ini aku adalah seorang mahasiswa, jadi bisa
diperkirakan berapa usia orang tuaku dan orangtua teman-temanku, apalagi bagi mereka
yang notabenenya anak bungsu, tentu saja orang tua mereka lebih tua daripada
aku yang anak sulung.
Sejujurnya, aku sangat kagum pada mereka yang tak lagi
memiki orang tua, tapi selalu bertingkah seolah-olah orang tua meraka masih
hidup. Dan, sejujurnya, aku yakin aku tak akan bisa seperti itu. Aku mungkin
tak akan bisa menjaga adik-adikku sebaik temanku menjada adik-adiknya
sepeninggal orangtuanya. Dengan tanpa banyak bicara menjemput adik-adiknya dari
sekolah setiap hari. Benar-benar figur seorang kakak yang bisa diandalkan dan
bisa melindungni adik-adiknya. Aku juga mungkin tak akan bisa menceritakan
orangtuaku di depan orang banyak, tanpa membuat mereka menyadari bahwa orang yang
tengah diceritakan telah tiada. Mungkin merekapun butuh waktu untuk menjadi
seperti itu, tapi, tak bisa kubayangkan berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk
menjadi sekuat itu.
Aku takut. Sangat-sangat
takut.
Mungkin orang-orang menganggapku orang yang kuat, mandiri, dan
tak pernah butuh pertolongan orang lain. Tapi, mereka tak pernah tahu alasan
selama ini aku selalu melakukan segala hal sendiri adalah karena aku tahu, saat
aku melakukan kesalahan akan selalu ada Mamah dan Papah yang membantuku untuk
memperbaiki kesalahanku. Untuk apa aku mengharapkan bantuan dari oarang lain,
saat aku bisa mendapatkan pertolongan dari ahli segala macam urusan? Untuk apa
aku harus terlihat lemah di hadapan orang lain, jika aku bisa menagis kapan pun
aku mau di depan orang tuaku? I don’t need anyone but my parent. Mungkin karena
itulah, Allah masih mengizinkan orangtuaku untuk tetap berada di sampingku.
Karena Allah tahu, aku tak sekuat yang orang-orang pikir.
Walaupun aku sudah berumur 20 tahun, tapi masih banyak hal
yang aku gantungkan pada orang tuaku. Semuanya akan baik-baik saja saat ada
Mamah. Semuanya bisa diatur selama ada Papah. Semua keputusan-keputusan vital
dalam hidupku, aku serahkan sepenuhnya kepada mereka. Entah karena aku ini anak
yang penurut atau hanya karena aku ini anak yang manja, yang bahkan menentukan
keinginanku sendiri pun tak mampu. Entahlah.
Mungkin, sekarang aku harus sudah mulai belajar mandiri. Aku
semakin dewasa, orang tuaku semakin tua. Dan kematian itu adalah hal yang
nyata. Semua yang bernyawa pasti merasakan mati. Bukan hanya karena itu, tapi
aku memang sudah tak pantas lagi untuk menangis setiap saat aku bermasalah. Aku
sudah terlalu tua untuk menjadi anak manja, well, aku bahkan sudah bukan
anak-anak lagi. Tapi, jika aku boleh meminta, Ya Allah, jangan ambil Mamah dan
Papah. Biar bagaimanapun value kehidupanku adalah value kehidupan mereka, aku
belum siap kehilangan mereka sekarang. Aku masih belum layak untuk menjadi
tumpuan adik-adik ku. Berikanlah kesehatan untuk mereka. Amiin.